dhieke

Lewat pengantar dari sebuah buku yang ditulis oleh Mubyarto dan Daryanti  yang berjudul Kajian Gula Sosial Ekonomi, tebu merupakan salah satu komoditas pangan bagi masyarakat Indonesia. Dalam batang tanaman yang tinggi kurus ini tersimpan cairan yang amat penting dan bermanfaat yaitu sebagai satu-satunya bahan baku pembuatan gula pasir. Gula pasir merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Selain sebagai penyedia rasa manis, gula pasir menjadi pemasok kalori yang cukup besar, karena penduduk Indonesia rata-rata lima persen kebutuhan kalorinya dipenuhi dari gula pasir.
Sejarah pun telah menorehkan sebuah perjalanan panjang perkembangan pabrik gula di Indonesia. Tebu diperkenalkan pertama kali oleh imigran Cina yang datang di Pulau Jawa sekitar abad 15. Kemudian pada tahun 1667 datang sekelompok pedagang Belanda di Pulau Jawa yang mendirikan VOC. Dengan peningkatan permintaan gula di Eropa maka pada tahun 1750 pabrik milik etnis Cina disewa untuk memproduksi gula di Eropa terutama di pantai utara Jawa.
Hal ini terus berlanjut hingga bertahun – bertahun dengan fluktuasi perkembangan keadaan pabrik gula di Indonesia. Perjalanan ini tentunya akan membentuk mindset masyarakat tentang nilai sajarah yang melekat mengenai kehadiran pabrik gula di Indonesia. Hal ini tentu menjadi nilai tambah tersendiri ketika pabrik gula dijadikan salah satu tempat wisata sejarah. Wisata sejarah yang dimanage dengan baik bisa menjadi potensi tersendiri sehingga fungsi pabrik gula itu tidak sekadar sebagai pabrik gula saja tetapi juga sebagai tempat wisata sejarah yang menarik. Untuk dapat mewujudkan diversifikasi pabrik gula tersebut tentu dibutuhkan konsep untuk menyusun pola pariwisata yang nantinya dapat diimplementasikan menjadi sebuah tempat wisata menarik yang memiliki nilai edukasi bagi masyarakat.

Potensi Bisnis
Berkembangnya pabrik gula nasional pada waktu penjajahan Belanda berawal dari kebijakan tanam paksa “cultuur stelsel” yang dilakukan oleh pemerintahan penjajahan Belanda. Dengan bangkrutnya VOC pada tahun 1810, berbagai usaha dilakukan oleh Belanda untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar – besarnya dengan sistem tanam paksa untuk menutupi hutang – hutangnya karena kalah perang di Eropa. Sampai saat ini sisa – sisa nilai history itu masih terlihat melalui bangunan – bangunan pabrik gula nasional. Bahkan aktivitas produksinya pun masih ada yang menggunakan alat jadul (baca : jaman dulu) meskipun hal ini berpengaruh terhadap jumlah produksi yang dihasilkan.
Dari ulasan singkat diatas sudah semestinya historycal value pabrik gula nasional ini dikelola dengan baik agar menjadi salah satu objek wisata sejarah. Hal ini dapat dijadikan sebagai sarana edukasi untuk semua generasi, khususnya generasi muda Indonesia. Kehadiran pabrik gula ini merupakan salah satu fakta sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Konsepnya, wisata sejarah di pabrik gula ini dapat menerapkan “factory tour” atau tour mengelilingi pabrik dengan melihat berbagai aktivitas produksi dari awal hingga akhir. Selain itu didukung pula dengan adanya sebuah PLI (Pusat Layanan Informasi) sehingga pengunjung bisa mendapatkan informasi terkait sejarah perjalanan pabrik gula baik berupa buku panduan, foto, maupun replika alat-alat.

Model Pemasaran
Di jaman teknologi ini, proses promosi suatu produk komersial baik berupa barang dan jasa, industri, maupun pariwisata menjadi sangat mudah. Hal ini bisa dilakukan dengan bantuan media online seperti website dan jejaring sosial. Namun, promosi dengan media online juga harus diperkuat dengan media offline seperti pamflet ataupun poster. Promosi dapat juga dilakukan dengan bantuan media cetak maupun elektronik. Hal ini akan mempercepat penerimaan informasi oleh masyarakat. Model pemasaran yang efektif juga harus melibatkan beberapa elemen seperti pemerintah, biro wisata atau travel, lembaga atau organisasi budaya dan sejarah, institusi – institusi, khususnya sekolah – sekolah sebagai salah satu media penunjang edukasi, serta peran serta masyarakat setempat. Dengan begitu akan tampak adanya simbiosis yang saling menguntungkan dari banyak pihak.
Peran serta masyarakat setempat dalam mempromosikan tempat wisata ini justru akan memberikan implikasi baik bagi kemajuan wisata baru ini. Dampaknya tentu perekonomian masyarakat juga akan terangkat. Mereka akan sangat diuntungkan dengan adanya tempat wisata ini karena nantinya mereka akan dapat membuka lapangan pekerjaan bisnis baru. Dengan begitu akan semakin terbentuk diversifikasi dari pabrik gula baik diversifikasi vertikal, horisontal, atau bahkan konglomerasi dengan melibatkan masyarakat setempat.
Dengan adanya perencanaan dan dukungan dari semua pihak, diversifikasi usaha semacam ini akan menjadi tantangan sekaligus peluang usaha yang pantas untuk direalisasikan. Dengan potensi yang dimiliki pabrik gula di Indonesia khususnya dibawah naungan PTPN X, diversifikasi usaha melalui pengembangan fungsi pabrik gula bukan tidak mungkin akan memberikan hasil yang maksimal melihat wisata sejarah dengan basic “factory tour” masih minim sekali jumlahnya. Salah satu harapan dengan adanya pembangunan wisata sejarah di pabrik gula ini dapat memberikan warna tersendiri dalam dunia pariwisata Indonesia.


*Mahasiswi Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto