Memang ya, pemuda jaman sekarang bisa dibilang lucu tapi menjengkelkan. Bagaimana tidak, berada di bus sejak naik hingga turun hanya asik dengan benda yang ada di tangannya. Berkutat dengan itu – itu saja. Apalagi kalau bukan HP. Alat mungil yang semakin canggih ini telah membuat perubahan besar pada gaya hidup masyarakat dewasa ini. Berada di dalam bus, duduk, dan kembali menggerakkan jari – jarinya untuk memainkan alat mungil ini.
SMS, BBM, Facebook, atau apalah. Yang jelas hal itu telah membuatnya menjadi tidak peduli. Kenapa bisa tidak peduli? Ya, karena ia tidak bertegur sapa dengan penumpang yang ada di sebelahnya. Senyum pun tidak. Jelas orang yang disebelahnya adalah orang yang lebih tua. Tidak ada rasa menghormati sedikitpun.
Astaghfirullahaladziim......
Mengapa pemuda jaman sekarang bersikap seperti itu? Memang benar kalau jaman semakin maju, tapi mengapa tidak dibarengi dengan pola tindak dan sopan santun. Tentu hal ini akan berpengaruh pada moral bangsa. Sensitif sekali rasanya ketika kita berbicara mengenai moral. Namun, hal itulah yang ditunjukkan oleh pemuda kita. Pemuda yang katanya penerus bangsa. Pemuda yang katanya menjadi agent of change. Tapi, rasanya mustahil jika pemudanya saja cuek dan tidak peduli.
Yang jauh diperlakukan dekat, tapi yang dekat diperlakukan jauh
Kira – kira itulah gambaran sederhananya. Pemuda sibuk dengan hubungan di dunia maya. Dunia yang tidak terjamah. Dunia yang tidak nyata. Namun mengapa justru hal itu menjadi hal yang diutamakan? Hal yang diutamakan melebihi dunia nyata. Dunia yang sesungguhnya. Dunia yang bertatap langsung, antara wajah dengan wajah. Namun hal itu diperlakukan seakan jauh dari kehidupannya. Yang jauh disapa, tapi mengapa justru orang yang ada di sekitar kita tidak disapa? Ada apa dengan masyarakat muda jaman sekarang? Hey pemuda, ayo sadarlah !
Kita ini adalah bagian dari masyarakat Indonesia. Masyarakat yang terkenal dengan keramahan dan kehangatannya. Namun agaknya hal ini akan menjadi cerita masa lalu jika pemudanya saja tidak peka terhadap lingkungannya. Pemuda yang gampang terpengaruh dan salah menggunakan teknologi. Ingat, kita ini sedang dipermainkan. Dipermainkan oleh mereka yang pandai mencari keuntungan “plus – plus”. Keuntungan plus politik. Keuntungan plus mencuri. Mencuri budaya dan kepribadian bangsa. Sungguh PARAH jika kepribadian bangsa mulai di obrak – abrik. Setelah itu HILANG.
“Apa salahnya sih? Toh kita gak mengganggu orang lain”. Kalimat pembelaan yang pasti terlontar jika pemuda disinggung mengenai hal ini. Memang itu tidak menggangu, tapi moral, etika, dan kepekaan kalian dipertanyakan.
Saling sapa, senyum, percakapan singkat adalah salah satu cara membuka kepedulian kita terhadap orang sekitar. Terlebih lagi jika kita sadar bahwa Hidup Adalah Kontribusi. Apapun bisa kita berikan kepada orang lain, termasuk hal yang paling sederhana dan tanpa mengeluarkan biaya. Senyum, Salam, Sapa.
SMS, BBM, Facebook, atau apalah. Yang jelas hal itu telah membuatnya menjadi tidak peduli. Kenapa bisa tidak peduli? Ya, karena ia tidak bertegur sapa dengan penumpang yang ada di sebelahnya. Senyum pun tidak. Jelas orang yang disebelahnya adalah orang yang lebih tua. Tidak ada rasa menghormati sedikitpun.
Astaghfirullahaladziim......
Mengapa pemuda jaman sekarang bersikap seperti itu? Memang benar kalau jaman semakin maju, tapi mengapa tidak dibarengi dengan pola tindak dan sopan santun. Tentu hal ini akan berpengaruh pada moral bangsa. Sensitif sekali rasanya ketika kita berbicara mengenai moral. Namun, hal itulah yang ditunjukkan oleh pemuda kita. Pemuda yang katanya penerus bangsa. Pemuda yang katanya menjadi agent of change. Tapi, rasanya mustahil jika pemudanya saja cuek dan tidak peduli.
Yang jauh diperlakukan dekat, tapi yang dekat diperlakukan jauh
Kira – kira itulah gambaran sederhananya. Pemuda sibuk dengan hubungan di dunia maya. Dunia yang tidak terjamah. Dunia yang tidak nyata. Namun mengapa justru hal itu menjadi hal yang diutamakan? Hal yang diutamakan melebihi dunia nyata. Dunia yang sesungguhnya. Dunia yang bertatap langsung, antara wajah dengan wajah. Namun hal itu diperlakukan seakan jauh dari kehidupannya. Yang jauh disapa, tapi mengapa justru orang yang ada di sekitar kita tidak disapa? Ada apa dengan masyarakat muda jaman sekarang? Hey pemuda, ayo sadarlah !
Kita ini adalah bagian dari masyarakat Indonesia. Masyarakat yang terkenal dengan keramahan dan kehangatannya. Namun agaknya hal ini akan menjadi cerita masa lalu jika pemudanya saja tidak peka terhadap lingkungannya. Pemuda yang gampang terpengaruh dan salah menggunakan teknologi. Ingat, kita ini sedang dipermainkan. Dipermainkan oleh mereka yang pandai mencari keuntungan “plus – plus”. Keuntungan plus politik. Keuntungan plus mencuri. Mencuri budaya dan kepribadian bangsa. Sungguh PARAH jika kepribadian bangsa mulai di obrak – abrik. Setelah itu HILANG.
“Apa salahnya sih? Toh kita gak mengganggu orang lain”. Kalimat pembelaan yang pasti terlontar jika pemuda disinggung mengenai hal ini. Memang itu tidak menggangu, tapi moral, etika, dan kepekaan kalian dipertanyakan.
Saling sapa, senyum, percakapan singkat adalah salah satu cara membuka kepedulian kita terhadap orang sekitar. Terlebih lagi jika kita sadar bahwa Hidup Adalah Kontribusi. Apapun bisa kita berikan kepada orang lain, termasuk hal yang paling sederhana dan tanpa mengeluarkan biaya. Senyum, Salam, Sapa.



